Agustus 27, 2026

Salassa FC Diblacklist: Bukti Nyata Matinya Demokrasi Sepak Bola Daerah

0
tegar

SUARATANEWS.ID-LUWU UTARA

Kasus pem-blacklist-an Salassa FC oleh Askab PSSI Luwu Utara bukan sekadar persoalan administratif dalam dunia sepak bola lokal. Ini adalah potret buram dari bagaimana kekuasaan sering kali digunakan bukan untuk membina, tetapi untuk membungkam.

Salassa FC, yang selama ini dikenal sebagai tim Yang Melahirkan Talenta” muda yang berpotensi di setiap generasi dan semangat kebersamaan serta dedikasi tinggi terhadap sepak bola akar rumput, justru menjadi korban dari keputusan sepihak yang minim transparansi.

Tidak ada ruang dialog, tidak ada kejelasan alasan yang objektif hanya keputusan “diblacklist” yang menyingkirkan satu tim dari arena kompetisi daerah.

Padahal, sepak bola seharusnya menjadi wadah persatuan, tempat anak muda menyalurkan bakat, bukan ajang kepentingan pribadi atau politik olahraga. Ketika sebuah tim dibungkam tanpa dasar yang kuat, maka yang mati bukan hanya semangat bertanding, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga sepak bola daerah.

Askab PSSI Luwu Utara seharusnya menjadi pembina, bukan penguasa. Tugasnya bukan menutup pintu bagi tim-tim kecil yang tumbuh dari semangat komunitas, tetapi membuka peluang agar semua bisa berkompetisi secara adil.

Blacklist terhadap Salassa FC harus menjadi bahan refleksi apakah sepak bola Luwu Utara masih berjalan di atas semangat sportivitas, atau telah terseret dalam arus kepentingan sempit?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *