Agustus 28, 2026

Nasdem-PKB Diprediksi Gabung Prabowo-Gibran, PDI-P dan PKS Oposisi

0
photo_member_resize_7

Jakarta – Hasil hitung cepat atau quick count sejumlah lembaga survei menunjukkan bahwa pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto – Gerindra Rakabuming Raka, unggul atas dua rivalnya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Hal ini membuat koalisi pendukung Prabowo-Gibran, yaitu Koalisi Indonesia Maju (KIM), semakin optimis untuk memenangkan pilpres.

Namun, KIM tidak ingin berpuas diri dengan hasil sementara tersebut. KIM juga terus membuka pintu bagi partai-partai lain yang ingin bergabung dengan koalisi mereka. Salah satu partai yang menjadi incaran KIM adalah Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang mengusung pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar sebagai calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01.

Menurut pengamat politik muda Sakral Wijaya Saputra, Nasdem memiliki kecenderungan untuk bergabung dengan KIM jika Prabowo-Gibran menang dalam pilpres. Sakral mengatakan bahwa Nasdem adalah partai pragmatis yang mencari pihak yang menguntungkan bagi mereka.

“Nasdem adalah partai yang tidak memiliki ideologi yang kuat. Mereka akan ikut ke mana saja selama itu menguntungkan. Jadi, jika Prabowo-Gibran menang, Nasdem akan segera merapat ke KIM,” ujar Sakral dalam wawancara dengan Kompas.com1.

Sakral menambahkan bahwa Nasdem juga memiliki hubungan yang baik dengan Prabowo dan Gibran. Nasdem pernah berkoalisi dengan Partai Gerindra, partai besutan Prabowo, dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Selain itu, Nasdem juga dekat dengan Gibran, yang merupakan putra dari Presiden Joko Widodo.

“Nasdem dan Gerindra sudah pernah berkoalisi sebelumnya, jadi tidak ada masalah untuk berkoalisi lagi. Nasdem juga punya kedekatan dengan Gibran, karena Gibran adalah anak dari Jokowi, yang merupakan mantan ketua umum Nasdem. Jadi, Nasdem punya alasan untuk bergabung dengan Prabowo-Gibran,” kata Sakral.

Selain Nasdem, partai lain yang diprediksi akan bergabung dengan KIM adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga mengusung Anies-Muhaimin. Sakral mengatakan bahwa PKB juga merupakan partai pragmatis yang tidak pernah menjadi oposisi. PKB akan berkoalisi dengan siapa pun yang menang dalam pilpres.

“PKB juga punya kecenderungan untuk bergabung dengan KIM. PKB adalah partai yang tidak pernah jadi oposisi. Mereka selalu berkoalisi dengan pemenang pilpres. Jadi, jika Prabowo-Gibran menang, PKB juga akan segera merapat ke KIM,” ucap Sakral.

Sementara itu, dua partai yang diprediksi akan menjadi oposisi dalam pemerintahan Prabowo-Gibran adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PDI-P merupakan partai pengusung pasangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD sebagai calon presiden dan wakil presiden nomor urut 03. Sedangkan PKS merupakan partai pendukung Anies-Muhaimin.

Sakral mengatakan bahwa PDI-P dan PKS merupakan partai ideologis yang tidak mudah goyah karena iming-iming jabatan. PDI-P dan PKS juga sudah pernah menjadi oposisi dalam pemerintahan sebelumnya. PDI-P menjadi oposisi pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sedangkan PKS menjadi oposisi pada era pemerintahan Jokowi.

“PDI-P dan PKS berpeluang besar menjadi partai oposisi. Dua partai ini sudah biasa menjadi partai oposisi. Mereka punya ideologi yang kuat untuk diperjuangkan. Mereka tidak akan mudah tergoda oleh jabatan atau kekuasaan,” tutur Sakral.

Namun, Sakral memandang bahwa PDI-P dan PKS akan sulit bersatu sebagai oposisi. Sebab, dua partai ini memiliki ideologi yang berbeda. PDI-P berhaluan nasionalis, sedangkan PKS berhaluan Islam. Keduanya sering berselisih dalam berbagai isu politik dan sosial.

“Sebenarnya, PDI-P dan PKS bisa menjadi oposisi yang kritis dan konstruktif. Tapi, masalahnya, mereka punya ideologi yang berbeda. Mereka sering bertentangan dalam berbagai hal. Mereka ibarat minyak dan air, sulit untuk bercampur,” kata Sakral.

Sakral berharap bahwa partai-partai yang kalah dalam pilpres tidak bergabung dengan partai yang menang. Sebab, jika hal itu terjadi, maka pilpres akan menjadi percuma. Sakral mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan oposisi yang sehat dan demokrasi yang kuat.

“Kalau semua partai bergabung dengan pemenang pilpres, maka pilpres tidak ada gunanya. Kita tidak akan punya oposisi yang sehat. Kita tidak akan punya demokrasi yang kuat. Kita akan kembali ke era orde baru, di mana hanya ada satu partai yang berkuasa. Hal ini tentu menjadi petaka bagi Indonesia,” pungkas Sakral

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *