Pekerja Urban 2026 Tinggalkan ‘Hustle Culture’, Beralih ke Tren ‘Slow Living’
NEW TREN SLOW LIVING 2026 (FOTO:ILS)
SUARATA NEWS.ID, JAKARTA – Tren gaya hidup sehat di tahun 2026 tak lagi sekadar berpusat pada diet ekstrem dan olahraga fisik yang berat. Berdasarkan pantauan tren terbaru, generasi pekerja urban kini mulai beralih mempraktikkan slow living atau gaya hidup santai demi menjaga kesehatan mental mereka secara jangka panjang.
Pergeseran ini perlahan menumbangkan tren kerja tanpa henti (hustle culture) yang selama satu dekade terakhir sempat mendominasi di berbagai wilayah perkotaan besar. Masyarakat masa kini tampak lebih menghargai keseimbangan antara jam kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance), serta menolak keras glorifikasi lembur atau jam kerja yang berlebih.

Mengubah Pola Pikir Produktivitas
Menurut sejumlah pengamat sosial dan praktisi kesehatan holistik, tolok ukur produktivitas di tahun ini tidak lagi dinilai dari seberapa panjang durasi waktu seseorang bekerja di depan layar. Produktivitas kini lebih dititikberatkan pada efisiensi penyelesaian tugas dan penetapan batasan yang sehat (boundaries) antara urusan profesional dan ranah personal.
Perubahan perilaku ini sejalan dengan kampanye lembaga kesehatan global. Mengutip panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait kesehatan mental di tempat kerja, lingkungan kerja yang menghargai batasan waktu sangat esensial untuk mencegah sindrom kelelahan kronis atau burnout.
Kondisi tersebut turut mendorong lahirnya tren digital detox, di mana banyak orang dengan sengaja membatasi penggunaan gawai pintar mereka. Langkah ini diambil demi menghindari stres berlapis akibat paparan media sosial yang berlebihan. Pekerja masa kini menyadari bahwa kesehatan mental adalah fondasi hidup sehari-hari yang harus dirawat secara proaktif, bukan sekadar pelarian sesaat.
(BACA JUGA: [5 Destinasi Staycation Tenang di sulawesi selatan])
Gaya Liburan yang Semakin Santai
Menariknya, tren slow living ini juga memengaruhi industri pariwisata secara signifikan. Alih-alih menyusun jadwal perjalanan wisata yang padat untuk mengunjungi banyak tempat dalam waktu singkat, para turis kini lebih meminati konsep liburan long staycation di satu area saja.
Destinasi wisata maupun akomodasi yang menawarkan suasana tenang, privasi tinggi, serta komitmen pada pelestarian alam semakin dilirik oleh wisatawan domestik. Perubahan preferensi ini sejalan dengan keinginan wisatawan untuk benar-benar mengistirahatkan fisik dan pikiran mereka dari hiruk-pikuk kota.
Pada akhirnya, konsep liburan yang ideal saat ini bukan lagi berpusat pada seberapa banyak tempat yang berhasil didatangi demi mengejar konten media sosial. Nilai sebuah perjalanan kini diukur dari seberapa berkualitas waktu rehat yang dihabiskan untuk memulihkan energi sebelum kembali pada rutinitas.(*)
