Agustus 27, 2026

Gerak Cepat Usai Dilantik, Dekan Farmasi UMI Dorong Hilirisasi Minyak Pala UMKM Papua Barat

0
AD5F9CAF-1459-47BA-9FA7-1F18DB3159A1

SUARATANEWS.ID-MAKASSAR

Sehari pasca dilantik sebagai Dekan Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. apt. Aktsar Roskiana Ahmad, Ph.D. langsung bergerak cepat membagikan kepakarannya. Ia hadir sebagai narasumber dalam forum penguatan kapasitas pelaku UMKM yang digelar di Makassar, Selasa (20/1/2026).

Kegiatan bertajuk “Teknologi Penyulingan Minyak Pala dan Standar Mutu Produk Turunan untuk Daya Saing UMKM” ini diselenggarakan oleh Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Hasil Perkebunan, Mineral Logam, dan Maritim (BBSPJIHPMM) di bawah naungan Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI).

Acara tersebut diikuti oleh 30 pelaku UMKM pengolah pala yang berasal dari Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

Dalam pemaparannya, Prof. Aktsar menekankan pentingnya hilirisasi produk melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Menurutnya, penguasaan teknologi bukan sekadar soal gaya-gayaan, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan mutu produk UMKM agar mampu bersaing di pasar global.

“Pala (Myristica fragrans Houtt) adalah komoditas rempah unggulan Indonesia dengan nilai ekonomi tinggi. Kandungan minyak atsirinya sangat dibutuhkan industri farmasi, kosmetik, hingga pangan. Namun, kunci untuk menembus pasar internasional adalah konsistensi standar mutu dan teknologi penyulingan yang tepat,” ujar Prof. Aktsar.

Guru Besar Farmasi UMI ini juga memberikan edukasi mendalam mengenai perbedaan karakteristik produk turunan pala. Ia menjelaskan bahwa minyak pala (essential oil) yang bersifat volatil (mudah menguap) diperoleh melalui proses distilasi. Hal ini berbeda dengan lemak pala (nutmeg butter) yang bersifat non-volatil dan diperoleh melalui ekstraksi atau pengepresan.

Pemahaman teknis ini dinilai krusial agar pelaku UMKM di Teluk Wondama dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi permintaan industri.

Menutup sesi materinya, Prof. Aktsar menggarisbawahi bahwa kemajuan ekonomi daerah tidak bisa dicapai secara parsial. Perlu adanya kolaborasi erat antara pelaku UMKM, pemerintah daerah, sektor swasta, dan perguruan tinggi.

“Kolaborasi antara unsur ini akan menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat. Jika hilirisasi ini berjalan lancar, dampak kesejahteraannya akan dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *