Agustus 28, 2026

Independensi Masyarakat Adat Rongkong Dicederai oleh Pengakuan Dukungan Politis Terhadap Salah Satu Calon Gubernur SULSEL

0
WhatsApp Image 2024-11-08 at 16.51.42_c28580fe

SUARATANEWS.ID-MAKASSAR

Rongkong, Luwu Utara – Kunjungan salah satu calon gubernur Sulawesi Selatan, Dany Pomanto, baru-baru ini mengundang polemik di kalangan masyarakat adat Rongkong. Kedatangan DP disambut oleh sejumlah tokoh adat setempat di kediaman Bunga Melati Siolanan Batoa, seorang tokoh adat terkemuka di Limbong, Rongkong. Namun, sambutan tersebut dianggap berlebihan oleh beberapa pihak, yang menilai tindakan tersebut mencoreng independensi masyarakat adat Rongkong.

Salah satu pemuda Rongkong, Urwal Mubarik, menyayangkan sikap beberapa tokoh adat yang diduga memberikan dukungan terhadap Dany Pomanto dalam pertemuan tersebut. Menurut Urwal, dukungan yang disampaikan oleh tokoh adat dianggap sebagai pengklaiman terhadap seluruh masyarakat Rongkong, yang seharusnya tetap mempertahankan posisi independen dari pengaruh politik.

“Sangat disayangkan adanya pengakuan tidak etis yang diduga dilakukan oleh beberapa tokoh adat Rongkong. Adat Rongkong selama ini dikenal sebagai lembaga independen yang seharusnya menjadi penengah dalam berbagai hal, termasuk yang bersifat politis. Namun, apa yang terjadi justru bertentangan dengan nilai-nilai filosofis adat Rongkong itu sendiri, jika betul demikian maka itu sangat mengores hati sebagian masyarakat Rongkong” ujar Urwal dengan nada kecewa.

Menurut informasi yang diperoleh dari seorang saksi yang tidak ingin disebutkan namanya, pertemuan tersebut berlangsung sekitar pukul 19.40 WITA, usai Dany Pomanto pulang dari kegiatan di Seko. Beberapa tokoh adat terlihat hadir dalam pertemuan tersebut dan memberikan sambutan hangat kepada calon gubernur yang bersangkutan.

Urwal menilai bahwa pertemuan yang dilakukan oleh beberapa tokoh adat ini tidak seharusnya melibatkan dukungan politis. Baginya, jika pertemuan tersebut dilakukan dalam konteks adat, dan tidak mengarah pada kepentingan politik tertentu, hal itu masih dapat diterima. Namun, adanya pengakuan yang diduga dilakukan oleh sebagian tokoh adat mengatasnamakan masyarakat Rongkong, dianggap sangat tidak etis.

“Saya sebagai pemuda Rongkong merasa miris dengan kejadian ini. Apabila pertemuan dan sambutan tersebut bersifat adat dan tidak ada muatan politis, itu masih wajar. Namun, pengklaiman yang diduga atas nama tokoh adat Rongkong untuk memberikan dukungan politis jelas mencederai marwah adat kita yang selama ini terjaga dari pengaruh politik. Ini sangat tidak etis,” tegas Urwal.

Kekhawatiran Urwal tentang tercorengnya independensi masyarakat adat Rongkong ini mengundang perhatian banyak pihak, termasuk kalangan pemuda dan beberapa elemen masyarakat yang menginginkan agar adat tetap berada pada kooridor independenya. Mereka berharap agar tokoh adat Rongkong kembali mengedepankan nilai-nilai luhur dan menjaga netralitas adat, agar tidak terjebak dalam dinamika politik yang dapat merusak keutuhan dan marwah lembaga adat yang selama ini dihormati.”Tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *