Agustus 27, 2026

Masyarakat Mappadeceng Menggelar Audiensi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Je’neberang Terkait Penutupan Bendungan Baliase

0
BALAI

SUARATANEWS.ID-MAKASSAR 

Makassar, 6 Maret 2024 – Masyarakat Kecamatan Mappadeceng yang terdiri dari empat desa, yakni Desa Kapidi, Desa Cendana Putih, Desa Mekar Jaya, dan Desa Hasanah, melakukan audiensi dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Je’neberang (BBWS) untuk menindaklanjuti dan meminta kejelasan terkait penutupan Bendungan Baliase yang dilakukan oleh vendor atau sub-pekerja.

Audiensi tersebut berlangsung di kantor BBWS Pompengan Je’neberang yang terletak di Jalan Monumen Emmy Saelan, Makassar, pada hari ini. Dalam pertemuan tersebut, masyarakat yang diwakili oleh Aliansi Masyarakat Mappadeceng meminta penjelasan mengenai penutupan bendungan yang berdampak langsung terhadap keberlanjutan irigasi pertanian di empat desa tersebut.

Aceng Kurniawan, selaku perwakilan dari Aliansi Masyarakat Mappadeceng, menyampaikan kekhawatirannya terkait dampak penutupan Bendungan Baliase. Menurutnya, penutupan bendungan ini dapat mengancam lahan pertanian sawah yang sangat bergantung pada irigasi bendungan, dengan potensi kekeringan dan gagal panen yang mengintai. “Kami sangat mengharapkan penjelasan terkait peristiwa ini, karena penutupan bendungan menyebabkan sawah-sawah kami terancam kekeringan. Ini akan berakibat langsung pada ketahanan pangan masyarakat kami,” ujar Aceng Kurniawan.

Dalam audiensi tersebut, Aceng juga mengungkapkan bahwa pihaknya mendukung penuh dilakukannya audiensi sebagai upaya untuk mencari solusi terkait penyegelan jalur bendungan yang telah dilakukan terhadap pihak vendor yang bekerja sama dengan kontraktor. Penyegelan ini, menurut Aceng, telah menimbulkan dampak negatif bagi para petani di wilayah Kecamatan Mappadeceng, yang kini terpaksa mengeluarkan biaya sekitar Rp. 150.000 per hari untuk menyediakan air bagi kebutuhan sawah mereka.

Sebagai langkah lanjutan, Aceng Kurniawan berharap pihak Balai Pompengan Je’neberang segera membuka kembali akses irigasi agar masyarakat, khususnya para petani, dapat kembali memanfaatkan aliran air dari bendungan untuk kebutuhan pertanian. “Kami berharap dengan segera dibukanya kembali jalur akses irigasi, petani dapat menggunakan air dari Bendungan Baliase sehingga kebutuhan pangan di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten bisa tercapai,” tutup Aceng.

Audiensi ini menunjukkan komitmen masyarakat Mappadeceng dalam memperjuangkan keberlanjutan sektor pertanian dan kelangsungan hidup mereka sebagai petani yang sangat bergantung pada irigasi dari Bendungan Baliase.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *